Nilai rupiah yang sudah melemah sangat dalam membuat perhatian dan keprihatinan banyak kalangan. Bagi pelaku bisnis berita rupiah ini akan menjadi hal utama yang paling dicari. Bagi pemangku kebijakan, berita rupiah ini yang paling sebel ditanyakan.
Biasanya memang komentar klasik akan keluar dari para pemangku kebijakan. Bagi rakyat kecil, ada sedikit kekecewaan saat rupiah ini melemah dan tidak perkasa. Memang segala yang kuat akan dianggap sebagai suatu kebanggaan tersendiri.
Wajar bila ada yang tersinggung saat rupiah dianggap sampah, lha wong ini mata uang kita. Meskipun nolnya makin banyak, dan tak berharga saat dibawa keluar negeri, tapi rupiah memang satu kebanggaan kita. Menyebut rupiah berarti menyebut kita, Indonesia sebagai identitas diri kita.
Namun sayangnya kita tak berdaya memelihara satu kebanggaan kita ini. Sudah beberapa bulan ini rupiah menjadi bulan-bulanan mata uang lainnya. Apalagi melawan dollar, nggak pernah menang, selalu di-KO terus, dan semakin megap-megap terpojokan.
Memang begitulah nasib rupiah, disayangi tapi sulit memeliharanya. Padahal tiap tahun anggaran kita semakin besar, tapi tak bisa digunakan untuk menguatkan rupiah. Pemangku kebijakan lebih memilih posisi rupiah yang melemah, ini terlihat dari anggaran yang ada setiap tahunnya.
Pemerintah lebih memilih defisit anggaran belanjanya dengan utang yang semakin besar. Utang yang akan memberatkan posisi rupiah kedepannya. Utang yang akan menjadi tanggungan generasi berikutnya.
Sudah bukan rahasia lagi, sebenarnya hasil pembangunan selama ini ditanggung oleh generasi yang akan datang. Kita yang menikmati “kemakmuran” saat ini adalah hasil dari utang yang semakin meningkat ini. Coba saja hutang dihentikan saja, tak perlu bayar, maka posisi pembangunan akan stagnan, bahkan mungkin menurun.
Apalagi bila hutang dihentikan dan bayar semua cicilan hutang, bisa dibayangkan kondisi perekonomian akan jadi apa. Kondisi pengelolaan hutang yang buruk ini sebagai gambaran betapa buruknya pengelolaan ekonomi kita. Memang kita hidup makmur dari hutang, ini yang patut diakui oleh semua.
Perekonomian kita tak akan pernah lepas dari hutang selama masih menggunakan hutang sebagai pondasi pertumbuhan ekonomi. Selama kita masih menganut ekonomi konsumtif, selama itu hutang akan tetap ada. Lain ceritanya bila kita bisa mengembangkan industri sebagai backbone pertumbuhan ekonomi, tentunya nasib rupiah akan lain ceritannya.