Gejolak rupiah membuat banyak pelaku bisnis pesimis atas asumsi pemerintah di anggaran belanja. Ini juga menandakan adanya ketidakpercayaan atas kebijakan pemerintah selanjutnya. Menurut pelaku bisnis pemerintah tidak realistis dengan apa yang terjadi, pemerintah seperti hidup di bagian lain dari dunia ini.
Mungkin pemerintah tidak terlalu khawatir dengan krisis ekonomi yang terjadi di cina. Padahal kita memiliki hubungan ekonomi yang erat dengan cina, mitra dagang yang strategis. Seakan cina hilang begitu saja dari peta ekonomi dan tidak memberi pengaruh berarti bagi Indonesia.
Pelaku bisnis sebenarnya sudah cukup maklum dengan asumsi yang ada di anggaran belanja. Ini terlihat dari tidak adanya perubahan berarti dari tahun sebelumnya, seakan kondisi saat ini oke-oke saja dan bisa dituntaskan dengan kebijakan yang dilakukan sekarang. Padahal pergerakan rupiah sudah begitu cepat dan nyaris tak terbendung pelemahannya.
BI sudah megap-megap dengan intervensi yang dilakukan, namun ini tak memberi perubahan berarti di anggaran selanjutnya. Pemerintah nampak begitu optimis bahwa semua akan berlalu, mungkinkah data yang dimiliki pemerintah berbeda? Hingga semua serba santai dan tenang.
Padahal dari data yang ada bisa dipastikan banyak portofolio investasi yang sudah meninggalkan Indonesia. Artinya iklim investasi sudah tidak kondusif lagi, lalu buat apa membangun proyek mercusuar infrastruktur bila investornya pada lari. Bukankah diperbaiki dulu persoalan yang merusak kondisi investasi ini?
Memang ada semacam data berbeda yang dimiliki oleh pemerintah sehingga kebijakan yang dilakukan berlawanan arah dari kondisi yang terjadi. Ini yang membuat tanda Tanya besar bagi pelaku bisnis. Meskipun pemerintah merespon pula bahwa pelaku bisnis irasional, suatu hal yang mungkin berdasarkan data yang berbeda. Lalu sebenarnya dimana letak perbedaan data antara pemerintah dan pelaku bisnis?
Pemerintah mungkin mengacu pada pertumbuhan ekonomi yang lebih baik di akhir kuartal. Suatu yang masih abstrak dan belum tentu terjadi, besar kemungkinan tidak akan tercapai. Ini mengingat kondisi global yang mengalami penurunan, trennya sudah menurun dan tak mungkin berbalik dalam sekejap.
Perekonomian cina yang diambang kejatuhan sudah bak reaksi berantai dan menimbulkan efek domino pada perekonomian Negara lainnya. Tak terkecuali Indonesia, Negara yang menjadi sumber dari bahan baku industri di cina. Bisa dipastikan perubahan apapun di cina akan menghantam Indonesia, jadi mungkinkah asumsi kurs rupiah di anggaran belanja bisa tercapai?