Nilai mata uang dollar yang naik tajam terhadap rupiah menimbulkan persoalan berat di perekonomian kita. Namun ada saja yang merasa tidak terpengaruh dengan naiknya dollar ini. Mau dollar 20 ribu rupiah atau 100 ribu kek, emang gue pikirin, gue kan bergerak di mikro.
Mungkin 10 tahun lalu pemikiran ini ada benarnya, namun tidak dengan kondisi saat ini. Mata uang dollar sudah menjadi bagian penting bagi perekonomian kita, tak peduli makro atau mikro usahanya. Lha wong barang impor sudah membanjiri seluruh wilayah Indonesia, tak peduli di supermarket, mall, sampai pasar tradisional sekalipun.
Barang impor inilah yang harus berurusan dengan dollar, bila dollar naik pastinya barang impor akan semakin mahal. Lihat menu makanan yang kita konsumsi setiap harinya, tahu-tempe, bahan baku kedelainya berasal dari impor. Bila dollar naik pastinya harga tahu-tempe akan naik, atau ukurannya akan semakin mengecil.
Demikian pula dengan bahan kebutuhan pokok lainnya, beras, gula, garam, daging dan lainnya kadang masih diimpor bila harganya melonjak. Ketergantungan kita akan barang impor inilah yang tidak bisa melepaskan kita dari pengaruh dollar. Jadi bila ada yang komentar tidak terpengaruh dollar, mohon dimaafkan, mungkin komentarnya politis. Namun tidak membantu dalam menyelesaikan persoalan melemahnya rupiah.
Meskipun sebenarnya rupiah melemah ada sisi baiknya, bisa meningkatkan daya saing ekspor. Namun kondisi ini tidak bisa dimanfaatkan, industri kita sudah lama hancur akibat banjirnya produk impor. Barang impor dari cina yang sangat murah membuat para pengusaha menutup pabriknya dan lebih suka menjadi pedagang atau importir.
Ada juga yang masih membuka pabriknya, tapi hanya sekedar bungkus dan stempel. Soalnya barangnya impor sedang pabriknya hanya memberi bungkus dan merek saja. Kondisi ini sudah lama terjadi, sehingga wajar bila melemahnya rupiah tak bisa dimanfaatkan untuk mengenjot ekspor, lha wong bahan bakunya masih impor.
Industri manufaktur kita memang banyak yang gulung tikar sejak free trade dengan cina dibuka lebar. Kita sebenarnya sudah seperti menjadi salah satu propinsi di cina. Barang “made in cina”-nya lebih banyak dari “made in Indonesia”. Ini yang membuat industri kita jadi hancur, kalah bersaing dengan produk cina.
Harusnya saat dollar menguat, pemerintah lebih fokus memperbaiki industri dalam negeri. Memberi insentif, listrik murah, kredit murah yang akan lebih meningkatkan daya saingnya. Soalnya ini dilakukan oleh cina sehingga barangnya sangat murah, harusnya kita membalas dengan melakukan hal yang sama, demi melindungi industri kita.
Membangun megaproyek infrastruktur sebenarnya baik, hanya tidak tepat waktunya. Dalam kondisi rupiah tertekan dan melemah, harusnya ketahanan fiskal dijaga, jangan menghambur-hamburkan anggaran buat membangun. Justru prioritas membesarkan industri nasional agar bisa bersaing dan ekspor bisa meningkat. Tentunya ini akan berimbas pada ketahanan rupiah.