Pengaruh Interest Rate tinggi bagi Investasi

11 September 2013

Otoritas keuangan memang berjibaku untuk menstabilkan gejolak rupiah, karena pengaruhnya memang bisa memicu inflasi yang tinggi. Namun Menaikan interes rate bukan solusi yang tepat di saat ingin memperbaiki iklim investasi. Boleh saja bisa meredakan tekanan pada rupiah, namun sangat kontraproduktif dalam menarik investasi yang secara jangka panjang akan menguatkan rupiah secara fundamental.

Memang kesan jurus “pemadam kebakaran” masih dipakai oleh sang pengambil kebijakan. Mereka seakan tidak memiliki visi dalam menguatkan rupiah secara fundamental. Banyak langkah yang dilakukan dalam menguatkan rupiah adalah merusak fundamental rupiah dalam jangka panjang.

Interest rate atau bunga yang tinggi hanya menurunkan kompetisi barang industri atas competitor di luar negeri. Barang industri akan sulit bersaing dengan produk asing, ini yang bisa menyebabkan menumpuknya barang impor dan membuat defisit neraca perdagangan sulit diperbaiki. Selamanya impor akan lebih tinggi dari ekspor yang berakibat fundamental rupiah sulit diperbaiki.

Interest rate yang tinggi juga mengakibatkan banyak perusahaan besar mencari dana murah di luar negeri. Hal yang menjadi “bom waktu” bagi tekanan rupiah dalam jangka panjang. Boleh dibilang utang swasta memang mengelembung dengan cepat, meskipun ini untuk investasi atau ekspansi bisnis. Namun keuntungannya akan tergerus oleh selisih kurs dan lebih sering “top-up” daripada sukses dalam mengendalikan utang dollar mereka.

Interest rate tinggi menurunkan daya saing bisnis

Memang tidak semua perusahaan memiliki utang dengan interes rate tinggi, namun bila pendulumnya sudah di sudut bunga yang tinggi, maka semua lembaga kredit akan meningkatkan bunga pinjaman mereka. Resikonya jelas akan menurunkan daya saing barang produksi mereka akan kompetitornya dari luar. Sudah lama membanjirnya barang impor adalah karena lemahnya daya saing barang lokal.

Meskipun sang pengambil kebijakan mencari alasan dengan melemahnya Negara tujuan impor, namun kenapa volume impor begitu membengkak secara cepat. Hal yang tidak pernah dipikirkan oleh pengambil kebijakan, perdagangan bebas bukan berarti membiarkan berdagang secara bebas, namun perdagangan yang fair juga harus didorong. Bila Negara lain menikmati bunga yang rendah, ini sudah bukan lagi perdagangan pasar bebas yang adil, sedang di dalam negeri bunga bank sudah dua, tiga, bahkan empat kali lipat dari pesaingnya di luar negeri.

Interest rate tinggi menekan rupiah selamanya

Memang menaikan interest rate adalah metode untuk menarik “capitol inflow” secara cepat dan besar ke dalam negeri. Ini juga bisa menguatkan rupiah, namun hanya untuk jangka pendek. Masalahnya bila tidak bisa dikonversi menjadi sebuah investasi jangka panjang akan sia-sia saja. Bahkan fluktuasi akan sering terjadi dengan capitol inflow yang cepat dan besar, apalagi merubah jangka waktu surat utang menjadi lebih pendek.

Memang metode yang dilakukan otoritas keuangan ini tidak memiliki visi, ini membuat rupiah tidak akan pernah menguat secara fundamental. Rupiah tetap sulit bersaing dengan mata uang lain khususnya dollar. Sungguh disayangkan Negara sebesar ini, melimpah kekayaan alamnya, tapi tidak di-manage dengan baik.
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
logo
Copyright © 2013-2015. Analisa Investasi - All Rights Reserved
-->