Era perdagangan bebas sempat membuat nilai ekspor tembus level psikologisnya, sehingga rupiah sempat menguat menembus level psikologisnya juga. Namun saat Negara tujuan ekspor mengalami kelesuan ekonomi, maka terjadi penurunan ekspor yang luar biasa, bahkan membuat nilai perdagangan menjadi defisit. Hal ini karena nilai impor mengalami lonjakan yang tak terkendali.
Memang era pasar bebas membuat nilai perdagangan meningkat tajam, namun ini tidak sebanding dengan efeknya yang merusak pebisnis kecil. Sesuatu yang memang dilepas untuk mendapatkan keuntungan yang besar dari pertumbuhan ekspor. Namun saat terjadi perubahan ekonomi, tata kelola perdagangan tidak direspon dengan cepat.
Nilai defisit perdagangan yang dibiarkan berlarut-larut, merembet ke pelemahan rupiah yang sebenarnya memang diharapkan tapi tidak disangka bisa terlalu dalam. Memang akan sulit menekan impor yang sudah berjalan, apalagi impor konsumtif yang diuntungkan oleh tata kelola ekonomi yang konsumtif. Tiap pebisnis memang akan mencari barang yang termurah untuk dijadikan bahan baku maupun untuk dijual.
Namun ada tata kelola ekonomi yang tidak fair di Negara asal sehingga bisa membuat barang impor berharga murah. Seperti subsidi pertanian di kasus kedele dan tenaga murah di kasus barang konsumtif. Hal inilah yang tidak direspon saat nilai impor mengelembung, berharap semuanya akan berlalu. Memang akan berlalu tapi meninggalkan bekas yang dalam, rupiah terpuruk.
Menekan impor dengan subsidi yang tepat sasaran
Memang cukup sulit meniadakan subsidi BBM, dan beberapa barang mewah yang terhambat oleh kepentingan politik dan sosial. Padahal pelemahan rupiah yang dalam lebih banyak karena tidak efektifnya tata kelola ekonomi. Impor minyak yang semakin tinggi, bukan untuk tujuan produksi melainkan untuk kebutuhan komsumtif. Akibatnya dollar yang dibelanjakan tidak menghasilkan keuntungan sama sekali.
Demikian pula dengan tata kelola kedele, ada perdagangan yang tidak fair yang tidak pernah diperbaiki. Bila Negara lain bisa bikin kedelenya murah, kenapa Negara tidak bisa mengelolanya. Bila Negara lain memberi subsidi ke petani mereka, kenapa Negara tidak melakukan hal yang sama. Hal inilah yang membuat barang impor membanjiri dan tidak tertata dengan baik, memang perdagangan bebas tidak mengenal pajak impor untuk mengendalikan impor. Namun banyak Negara melindungi kepentingan nasional mereka dengan subsidi terselubung.
Mewaspadai pertumbuhan ekonomi konsumtif
Dalam banyak hal memang pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini disumbang oleh konsumsi dalam negeri yang tinggi. Memang ekonomi bisa bergerak positif bila barang yang dikonsumsi dari dalam negeri, namun bila yang dikonsumsi barang impor, akan membuat pertumbuhan ekonomi menjadi semu. Hanya positif diatas kertas, tapi tidak pernah menguat secara fundamental.
Perlu mekanisme memperbaiki iklim investasi, subsidi yang efektif, pengaturan surat utang yang terencana, interest rate yang kondusif, adalah sekian hal yang harus segera ditindaklanjuti. Mekanisme pemecahan masalah dalam jangka pendek hanya akan merusak fundamental ekonomi dalam jangka panjang. Ini akan selamanya membuat rupiah tidak diminati oleh para investor.