Langkah cina melakukan devaluasi yuan memang berpengaruh pada perekonomian dunia. Langkah ini juga ditiru oleh Vietnam, dengan devaluasi mata uang dong. Namun kenapa RI tak berani melakukan devaluasi rupiah?
Tentunya pemerintah akan berpikir seribu kali untuk melakukan devaluasi rupiah. Resikonya bisa gagal bayar atas utang-utang luar negerinya, tapi bukankah utang luar negeri pemerintah dalam jangka panjang? Ternyata tidak semua utang pemerintah dalam jangka panjang, ada beberapa yang akan jatuh tempo, dan setiap tahunnya pemerintah menyisihkan lebih dari 10 persen anggarannya buat bayar utang dan bunganya.
Bila rupiah didevaluasi, jelas utang luar negerinya akan semakin berat. Ini belum lagi utang swasta yang juga tak kalah besarnya. Devaluasi rupiah akan membuat banyak perusahaan yang akan bangkrut dan Indonesia bisa jatuh miskin, kita memang tidak seperti cina atau Vietnam yang cukup ketat dalam memonitor mata uangnya.
Rupiah sebenarnya juga selalu dijaga dengan ketat, hanya saja menganut floating currency, yang diserahkan pada pasar. Sekali-kali BI turun ke pasar untuk intervensi saat rupiah bergejolak. Rupiah memang amat rendah kapitalisasinya, mudah sekali digoyang oleh spekulan.
Memang mata uang rupiah diperdagangkan, sehingga dengan kapitalisasi yang rendah akan mudah dipengaruhi oleh aksi spekulan kakap. Sungguh ironi Negara besar tapi pasar uangnya sangat kecil, bahkan masih kalah dengan singapura atau Thailand. Tidak heran perdagangan rupiah sempat diatur di singapura, sebelum diambil alih oleh BI.
Disini ekonomi rupiah sebenarnya perlu berubah dari pola konsumtif menjadi ekonomi industri. Ekonomi yang pertumbuhannya ditopang dari sektor industri yang besar dan bisa bersaing di pasar global. Ini yang akan bisa meningkatkan kapitalisasi pasar mata uang rupiah.
Selama rupiah masih berkutat mengandalkan pasar domestik untuk pertumbuhannya, maka selama itu pula akan dengan mudah digoyang dari luar dan dipengaruhi dengan mudah oleh faktor eksternal. Sudah waktunya bagi pemangku kebijakan bekerja keras membangun industri. Jangan hanya berharap dari sumber daya alam untuk ekspornya, sudah waktunya industri dikembangkan dan bersaing di pasar global.