Sulitnya Membuat Rupiah Stabil

10 December 2013

Mungkin sudah berbagai jurus dilakukan otoritas moneter dalam menstabilkan rupiah. Namun gejolak rupiah nampaknya selalu ada, dan begitu mudah digoyang oleh sentimen negatif yang kecil sekalipun. Ada persoalan mendasar yang membuat begitu sulit bikin rupiah menjadi stabil.

Memang begitulah resiko floating currency, lain bila fixed currency tidak terlalu berdebar-debar. Meskipun memiliki resiko yang sama pula, namun floating currency sebenarnya bisa dibangun kekuatan curencynya. Faktor positifnya bisa selalu ada sehingga tidak begitu melemah terlalu dalam.

Memang ada banyak masalah yang timbul bila rupiah melemah, mulai dari beban utang yang semakin membengkak. Juga harga-harga barang yang bisa bergejolak, yang bikin inflasi semakin tidak terkendali. Memang ongkos ekonomi dari bergejolaknya rupiah sangat tinggi, sehingga wajar begitu banyak biaya untuk menstabilkan rupiah.

Namun apa yang dilakukan otoritas moneter lebih bersifat jangka pendek, asumsi yang dibuat lebih berkisar pada sentimen yang terjadi. Tanpa pernah memandang esensi mendasar dari persoalan yang terjadi. Sehingga sering langkah yang dilakukan kontra produktif.

Siapapun akan mengerti bahwa menaikan BI rate adalah langkah yang tepat dalam menaikan sentimen pada rupiah. Namun dalam jangka panjang membuat ekonomi biaya tinggi, yang justru menurunkan iklim investasi di dalam negeri. Memang makro bisa saja sangat membaik, namun di sektor riil menjadi babak belur. Padahal sektor ini yang bisa menjadi tumpuan kekuatan rupiah.

Selama ini pondasi ekonomi lebih diletakan pada sisi konsumtif yang berkembang pesat. Memang selama ekploitasi alam masih berjalan, sisi konsumtif akan bisa diandalkan. Namun saat dimana globalisasi, harga komoditas sudah bersaing ketat, upah murah sudah tidak bisa diandalkan, maka sebenarnya efisiensi produksi menjadi tumpuan.

Bila sisi investasi yang berbiaya tinggi tidak pernah diperbaiki, bisa jadi tidak ada arus investasi yang bisa menguatkan rupiah. Orang jual produk komoditas keuntungannya lebih disimpan di luar negeri. Sebuah asumsi bahwa pasar rupiah tidak begitu likuid, bukanlah sebuah alasan.

Apalagi hal itu dikeluarkan oleh pejabat otoritas keuangan, pasar rupiah yang kecil bukanlah sebuah alasan atau kambing hitam dari melemahnya rupiah. Bila ingin menbangun ekonomi dengan wewenang mengelola dana billion dollar, bukanlah hal yang harus dijadikan tradisi untuk operasi pasar, agar pasar rupiah menjadi membesar. Ini sama saja dengan memboroskan kekayaan Negara, berapapun dana yang ada akan habis.

Lain bila otoritas moneter ini memperbaiki persoalan ekonomi yang mendasar, iklim investasi harus diperbaiki. Pungli, birokrasi harus harus diperbaiki, segala yang membuat ekonomi biaya tinggi harus diusahakan bagi tumbuhnya investasi. Langkah ini justru lebih baik dari pada masuk ke pasar bikin rupiah lebih ramai, yang justru hanya dimanfaatkan oleh para speculator. 
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
logo
Copyright © 2013-2015. Analisa Investasi - All Rights Reserved
-->